Hati hati Membeli Kucing

Beberapa bulan yang lalu, kami kehilangan kucing kesayangan kami. Dicuri orang.

Anak kami sungguh sedih kehilangan kucing kesayangannya.

Sampai akhirnya dia menemukan tempat beli kucing, pas dia browsing di LINE dan saya lihat juga ada page nya di FB, dan dia search sendiri tempat beli, tanya tanya harga dan akhirnya kami pergi ke tempat tersebut.  

Awalnya kami tertarik banget karena kelihatannya care yaa sama kucing sampai ada playground nya segala. Saya pikir, cukup bonafit juga udah berani ngiklan di media sosial, dan saya udah yakin, kalau berani main promo di media sosial, seharusnya yaa nggak sekelas pet shop biasa yang cuma asal jual aja.

Dan anak saya udah jatuh cinta sama salah satu kucing disana. Sampai sampai dia memecahkan tabungannya, ngumpulin tabungannya buat membeli kucing tersebut. 

Pas mau beli kucing
Pas mau beli kucing

Dan kami pun membeli kucing dari tempat itu. Bayarnya harus dalam 2 hari, ambil kucingnya juga gak boleh lama lama. Yaudah, emang udah kesengsem yaa anakku. Tapiii kata mereka dokternya libur dan ga bisa vaksin si kucing tersebut. Teteup kekeuh kucing HARUS DIAMBIL SECEPATNYA. Katanya udah dekat lebaran dan dokternya udah cuti jadi ga bisa vaksin.

Ok kita ambil kucingnya. Dan seperti biasa, kita masukin ke kandang, karena dia kucing baru. Biar kenalan sama kucing lain di rumah kami dan terbiasa dengan lingkungannya.

Ternyata 2 hari di rumah, kucing itu diare, dan tambah lemas sampai akhirnya jam 9 malam kami larikan ke emergency vet. Biaya emergency = 1,5 juta :((

Diperiksa, ternyata kucing tersebut menderita penyakit FPV = feline Parvo Virus.

Udah ditest dengan test pack virusnya, ternyata positif. Dan harus dirawat karena itu adalah virus mematikan dan menular banget. Kami disarankan mensterilkan semua kandang, semua tempat yang kena kotoran si kucing. Bahkan virus tersebut bisa menetap sampai 6 minggu!

Wah kami was was banget soalnya ada kucing lain di rumah kami. 

5 hari kemudian, kami dikabari kalau si kucing tidak bisa diselamatkan. Anak saya benar-benar sedih. Apalagi kucing itu dibeli dengan uang tabungan dia bertahun tahun.

Yang bikin kaget….responnya mereka. Kami memberi kabar bahwa itu adalah penyakit menular yang kata dokter sudah ada minimal 2 minggu sebelum kucing tersebut kami bawa pulang. Artinya…di tempat penjual kucing tersebut ada kucing lain berpenyakit sama dan menulari kucing yang kami ambil. Dan kami minta kalau bisa mereka juga andil bertanggung jawab sebagian atas pengeluaran rumah sakit yang harus kami tanggung, karena penyakitnya udah ada dari sebelum kucing itu kami beli. 

Catat: kami gak minta uang beli kucingnya balik! 

Gak disangka, ternyata tanggapannya membuat kami memutuskan nggak meneruskan diskusi dengan mereka, ngeliat emang  nggak menunjukkan sikap penjual yang recommended. Dilempar sana sini katanya keputusan bersama, dan nggak ada yang menghubungi balik, dan kami yang kejar kejar mereka untuk kasih update udah sampai dimana diskusinya mereka. Pada akhirnya ditutup dengan jawaban yang kurang profesional.

WA 1WA 2

WA 3

Wah benar benar deh semoga teman teman yang pengen beli kucing, harus hati hati banget. Kami belajar banyaaak banget dari kejadian ini. Kapok juga kalo denger nama tempat itu.

Pelajaran yang kami dapatkan dari kejadian ini:

1. Jangan pernah beli kucing yang belum divaksin

Kami jadi mikir kenapa dia mengharuskan kami memgambil kucing tersebut cepat cepat, mungkin emang udah tau yah kucingnya agak sakit. Dan belakangan kami belajar dari dokter hewan kami bahwa kucing yang mau divaksin salah satu syaratnya ditest FPV dulu. Hmmm pantesan gak jadi divaksin yah, dan kami disuruh ambil kucing tersebut secepatnya.

2. Nggak usah tergiur bawa kucing kita ke playground kucing, atau tergiur dengan iklan yang kesannya jago banget handle kucing. Lihat apakah mereka beneran pecinta kucing yang sebenarnya, dan gimana sikap mereka kepada pengunjung/customer saat ada customer. 

3. Seharusnya, seorang penjual binatang peliharaan, memberikan garansi 1 minggu

Saya baca di salah satu buku tentang kucing, bahwa penjual kucing (yang bener dan resmi) harus memberikan garansi 1 minggu, menjamin bahwa selama seminggu itu kucingnya tidak sakit atau mati. Ternyata bener yah, dalam seminggu kucing kami mati, hehehe. Kalau dalam kasus ini, kalau memang penjual berniat baik, dia mengenali kucing kayak apa yang sehat, yang gak sakit. Dan bisa ceritakan dan rekomendasikan ke kami, si kucing yang kami beli lagi kenapa, harus diapain dan ngerti kesehatan kucingnya. Bukan semata asal laku jualannya. Nah liat liat aja kalo penjual ngasih klaim: “tidak bertanggung jawab atas kejadian sesudah membeli kucing” – besar kemungkinan mereka memang nggak akan kasih ganti rugi kalau kucingnya tetiba sakit, atau tetiba mati. 

Alhamdulillah kami bersyukur atas kejadian ini. Karena kami juga pebisnis yang memang menggunakan 80% kegiatan bisnis kami di media sosial, dan dari sini kami belajar bahwa namanya menjual sesuatu pasti harus dipikirin gimana resiko after sales nya. Apalagi kalau kita punya konsumen dan barang dagangan yang harganya nggak murah :)

Kami juga belajar, selalu lihat tempat kami ambil binatang peliharaan, apakah si ownernya cukup friendly dan komunikatif, atau hanya mengandalkan sales person, receptionist, dan video video tutorial di media sosial untuk interaksi dengan konsumennya. 

Okeh sekian deh cerita pengalaman kami. Semoga teman teman kami yang juga cinta kucing gak mengalami hal gak enak seperti kami. Kami banyak belajar dari hal ini, dan semoga pihak yang bersangkutan juga banyak belajar, apalagi belajar gimana menjadi pebisnis, dan bagaimana menghadapi pelanggan.

Semoga teman teman bisa mengambil pelajaran yaaa dari pengalaman kami ini, dan kami doakan semoga bisnisnya berkah dunia akhirat. Amiiinn…

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *